Khamis, 21 Ogos 2014

Berkabung...

Esok hari berkabung Malaysia.Haru macam ni.Dah belek-belek dalam almari,memang tak ada baju yang gelap apatah hitam saja.Yang ada hitam tapi warna merah.Memang saya tak suka baju yang malap ni.Baju semuanya ceria saja.Apabila dah baca artikel ni,memang takkan pakai baju hitam,memadailah warna kelabu dan peach.Itu saja baju yang gelap bagi saya.

Memakai Pakaian Hitam Dalam Rangka Berkabung
Posted by Admin pada 21/06/2009
Oleh : Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah

Pertanyaan :

Apakah boleh memakai pakaian hitam dalam rangka berkabung atas kematian seseorang terkhusus lagi bila orang tersebut suami ?

Jawab :

Memakai pakaian hitam ketika terjadi musibah merupakan syi’ar yang bathil yang tidak ada asalnya dalam Islam. Seseorang ketika terjadi musibah hendaknya melakukan apa yang disyariatkan. Ia bisa mengucapkan :

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Allahuma jurnii fii musiibatii wakhluflii khairan minha..

Artinya : “Sesungguhnya kami adalah milik ALLAH dan benar-benar kepada-Nya kami akan kembali. Ya, ALLAH berilah aku balasan (pahala) di dalam musibahku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari musibah tersebut. ”

Bila ia mengucapkan kalimat itu dengan rasa iman dan mengharapkan pahala maka ALLAH Ta’ala akan memberinya balasan atas musibah yang menimpa dan akan mengganti musibah tersebut dengan hal yang lebih baik darinya.

Sungguh pernah terjadi pada Ummu Salamah Radhiyallahu Ta’ala ‘anha ketika ia mendapati lematian dari Abu Salamah Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu yaitu suaminya sendiri yang merupakan anak dari pamannya dan orang yang dicintainya. Lalu Ummu Salamah mengucapkan do’a tersebut, ia mengatakan : “Saya berkata dalam hati, apa ada orang yang lebih baik dari Abu Salamah.”

Setelah selesai masa iddahnya, ternyata ia dipinang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang lebih baik baginya dari Abu Salamah Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Demikianlah, setiap orang yang mengucapkan kalimat tersebut dengan iman dan mengharapkan pahala, maka ALLAH Ta’ala akan memberi pahala atas musibahnya dan menggantinya dengan hal yang lebih baik darinya.

Adapun memakai pakaian tertentu seperti pakaian hitam dan sejenisnya, maka ini tidak ada asalnya dan merupakan perkara yang bathil dan tercela. ( Fatawa Nur’alad Darb Karya Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin hal. 76).

-Allahu a’lam bishshawab-


Lagi artikel yang perlu dibaca:

Imam Suyuthi didalam kitabnya “al Awa’il” menyebutkan bahwa yang pertama dipakai oleh orang-orang Abbasiyah adalah warna hitam ketika Ibrahim al ‘Umawi membunuh Ibrahim seorang imam yang mengaku khalifah sehingga warna hitam menjadi syiar bagi mereka. Ada juga yang mengatakan bahwa orang-orang Mesir memilih pakaian berwarna hitam untuk menunjukkan kesedihan saat berkabung terhadap orang-orang Koptik yang mati pada masa “Diokletianus” dimana sebanyak 180.000 orang-orang Kristen disembelih dalam satu hari kemudian kaum wanita mereka mengenakan pakaian yang berwarna hitam.

Ini bermakna, tidak terdapat nash-nash di dalam Al Qur’an dan Sunnah yang menunjukkan penggunaan pakaian yang berwarna hitam saat berkabung terhadap seorang yang meninggal. Yang ada hanyalah larangan mengenakan pakaian yang bertentangan dengan perasaan kesedihan dan membiarkan pembatasan itu kepada adat kebiasaan. (Fatawa al Azhar juz X hal 17)

Manakala, adat berkabung atas kematian pemimpin, dengan cara seperti merendahkan bendera, memakai pakaian serba hitam, songkok berlilit dan seumpamanya, ia satu perkara yang tidak ada asas dalam syarak dan tidak didapati sumbernya dalam agama, dan perbuatan salaf. Malahan, ketika wafat pemimpin paling agung, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, sahabat tidak melakukan perkabungan seumpama ini.

Ini menunjukkan ia tidak syar'ie. Dan lebih dibimbangi amalan umpama ini ditiru daripada adat masyarakat bukan Islam. Sedangkan kita dilarang meniru adat mereka.Sumber,

Tiada ulasan:

Catat Ulasan